Select Page
Biografi Florence Nightingale, Pelopor Perawat Modern
  May 16, 2020
  Berita

KOMPAS.com – Hari Perawat Internasional yang selalu diperingati setiap 12 Mei tidak lepas adanya dari peran Florence Nightingale. Florence Nightingale menjadi sosok yang penting dalam dunia keperawatan. Ia merupakan pelopor perawat modern. Bahkan dijuluki sebagai “The Lady With the Lamp” atau “Bidadari Berlampu”.

Kehidupan awal

Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), Florence Nightingale dilahirkan pada 12 Mei 1820 di Florence, Italia. Florence Nightingale seorang Perawat pelopor perawat modern, penulis dan ahli statistik. Sudah sejak kecil, Nightingale cukup pandai. Ayahnya menaruh minat khusus pada pendidikannya. Ia dibimbing melalui sejarah, filsafat dan sastra. Ia bahkan unggul dalam matematika dan bahasa. Ia sudah mampu membaca dan menulis bahasa Prancis, Jerman, Italia, Yunani, dan Latin. Lebih suka membaca para filsuf besar dan untuk terlibat dalam wacana politik dan sosial.

Menjadi Perawat

Sejak usia muda, Nightingale sudah aktif dalam filantropi, melayani orang sakit dan miskin di desa dekat dengan lahan milik ayahnya. Ia memandang panggilan khususnya sebagai mengurangi penderitaan manusia. Perawatan tampaknya merupakan rute yang cocok untuk melayani Tuhan dan umat manusia. Keluarga merasa keberatan dan tidak senang saat Nightingale ingin menjadi perawat. Bahkan keluarganya melarang untuk mengikuti pelatihan perawat. Karena menurut keluarga, kegiatan itu tidak pantas untk seorang yang bertubuh tinggi. Meski ada keberatan dari keluarga, pada 1850 Nightingale mendaftarkan di Institution of Protestant Deaconesses di Kaiserswerth Jerman. Selama dua minggu pelatihan pada Juli 1850 dan sekali lagi selama tiga bulan pada Juli 1851. Di sana, ia belajar keterampilan keperawatan dasar, pentingnya pengamatan pasien, dan nilai organisasi rumah sakit yang baik. Lewat koneksi sosial, Nightingale menjadi pengawas Institution for Sick Gentlewomen (governesses) di Distressed Situance, di London. Di sana berhasil menunjukkan keahliannya sebagai administrator dengan meningkatkan perawatan, kondisi kerja, dan efisiensi rumah sakit. Pada 1850 juga, Nightingale menjadi sukarelawan di rumah sakit Middlesex. Di mana bergulat dengan wabah kolera dan kondisi tidak sehat yang kondusif untuk penyebaran penyakit yang cepat. Nightingale menjadikannya misinya tersebut untuk meningkatkan praktik kebersihan, secara signifikan menurunkan tingkat kematian di rumah sakit dalam prosesnya.

Merawat korban Perang Krimea

Pada Oktober 1853, terjadi perang Krimea di Semenanjung Krimea Rusia. Di mana Inggris dan Prancis berperang melawan Kekaisaran Rusia untuk menguasai wilayah Ustmani. Dikutip situs Biographi, pada saat itu, tidak ada perawat wanita yang ditempatkan di rumah sakit di Krimea. Pada 1854, Ia mengajukan diri untuk untuk mengorganisir sejumlah perawat untuk merawat prajurit yang sakit dan jatuh di Krimea Nightingale memimpin sebuah rombongan yang terdiri dari 38 wanita. Berangkat 21 Oktober 1854, dan tiba di Scutari di Rumah Sakit Barrack pada tanggal 5 November. Korban perang dirawat di rumah sakit tersebut, namun di sana tentara dirawat oleh lembaga medis yang tidak kompeten dan tidak efektif. Bahkan persediaan peralatan paling dasar tidak tersedia untuk perawatan. Banyak tentara yang meninggal bukan karena peluru atau bom, tapi tidak adanya perawatan yang layak. Saat Nightingale datang pun merasa terkejut dengan fasilitas rumah sakit. Ia menemukan kondisi kotor, persediaan tidak memadai, staf tidak kooperatif, dan kepadatan parah. Beberapa perawat memiliki akses ke bangsal kolera. Nightingale ingin mendapatkan kepercayaan dari ahli bedah tentara dengan menunggu perintah militer resmi untuk bantuan, menjaga partainya dari bangsal. Ia kemudian memperlakukan standar perawatan yang ketat dan bangsal harus bersih. Selain itu memastikan kebutuhan dasar, persediaan makanan dan obat-obatan mencukupi, seperti peralatan mandi, pakaian bersih dan perban. Perhatian diberikan pada kebutuhan psikologis juga. Nightingale sendiri berkeliaran di bangsal pada malam hari. Di mana untuk memberikan dukungan kepada pasien korban perang. Ia menghabiskan berjam-jam di bangsal. Itu yang membuatnya mendapat julukan “The Lady with the Lamp“. Ia pun mendapatkan rasa hormat dari para prajurit dan lembaga medis. Berkat perawatan yang dilakukannnya mampu mengurangi angka kematian menjadi sekitar 2 persen.

Mendirikan Rumah Sakit

Pada 1860, Nightingale mendirikan Rumah Sakit St. Thomas di London. Di dalamnya terdapat sekolah perawatan dengan menetapkan dasar keperawatan profesional. Sekolah tersebut menjadi yang pertama di dunia dan sekarang menjadi bagian dari King’s College London. Nightingale juga dikenal sebagai ahli statistik, membuat grafik pie coxcomb tentang kematian pasien di Scutari yang akan mempengaruhi arah epidemiologi medis. Pada 1910, Nightingale jatuh sakit dan sempat pulih dan dilaporkan bersemangat. Namun pada 12 Agustus 1910, Nightingale mengalami serangkaian gejala yang mengganggu. Dia meninggal secara tak terduga sekitar pukul 14.00 keesokan harinya, Sabtu, 13 Agustus, di rumahnya di London.

Knowing is better than wondering, waking is better than sleeping, and even the biggest failure, even the worse, beats the hell out of never trying.

Sumber : https://www.kompas.com/skola/read/2020/05/12/183000269/biografi-florence-nightingale-pelopor-perawat-modern

Join Us!

Flag Counter

Berita Terbaru